Comments (0)
Comments (0)
Ayah, bisakah kita habiskan senja berdua, di kursi merah yang ada di rumah kita. Aku ingin ayah mendongengkanku petualangan hidup yang ayah jalani. Diselingi dengan tawa dan canda, ah itu benar-benar terdengar sangat indah.
Ayah, terkadang aku ingin mendengar khotbahmu tentang kehidupan untuk bekalku sebagai manusia. Atau ceramahmu tentang larangan-larangan yang tak boleh aku lakukan. Atau juga petuahmu agar aku selalu menjadi wanita hebat. Ayah, aku ingin merasakannya. Lebih dekat denganmu.
Ayah, kata mamah, dulu ketika aku masih kecil, ayah sangat memanjakanku. Ayah sangat membanggakanku sebagai seorang anak perempuannya. Bahkan aku masih ingat julukan yang ayah berikan untukku “si putri tunggal” haha yaa karena aku adalah anak perempuan satu-satunya yang ayah miliki, Tapi yah, setelah aku tumbuh besar, ayah jarang menghabiskan waktu denganku lagi seperti dulu, sosokmu terasa jauh dalam jangkauanku.
Ayah, aku merindu caramu memangkuku dulu ketika aku masih kanak-kanak.. Aku menyadari bahwa itu takkan mungkin terulang kembali. Tapi yah, setidaknya aku ingin berada didekatmu, memandang lekuk wajahmu yang kian hari semakin menua.
Ayah, engkau bukanlah lelaki sempurna yang selalu aku kagumi. terkadang aku juga membencimu ketika ayah membuat mamah menangis. Aku terkadang membenci caramu. Tapi jauh sekali dalam hatiku, selalu tertancap rasa bangga dan syukur mempunyai ayah sepertimu.
Ayah, terimakasih untuk kehidupan yang engkau beri selama ini. Aku, Silvi Sri Mulyani, putrimu, selalu berusaha untuk membuatmu bangga memiliki seorang putri.
Garut, 02 juni 2016
Comments (0)
Hari ini 14 Oktober 2017, sebenarnya tak ada yang istimewa untuk hari ini. Tak ada sesuatu yang harus dirayakan, dan tak ada pula yang harus dikenang. Namun, hari ini tiba-tiba aku ingin menulis. Menulis sebuah pesan untuk mereka. Manusia-manusia yang telah mengisi hari-hariku dimasalalu dengan berbagai warna. Merekalah teman-teman yang selalu aku banggakan, dan betapa aku merasa memiliki segala isi dunia ketika aku bersama mereka.
Hari ini aku merindukan mereka. Betapa rasa rindu ini sampai membuatku sulit bernafas. Aku tau kita semua telah berjeda satu sama lain. Saling berpencar mencari jati diri yang lebih nyata. Aku tau bahwa hidup mesti berjalan sesuai irama semesta. Dan aku tau bahwa setiap pertemuan akan berakhir bagaimanapun caranya. Aku tahu semua itu! Tapi banyak hal yang belum bisa aku biasakan. Seperti kebiasaan-kebiasaan yang sering kami lakukan. Ah itu saja sebenarnya. Tapi mengapa sangat sulit untuk melapangkannya. Sangat sulit untuk memaafkan keadaannya.
Tapi, aku percaya, sejauh apapun kami saling berpencar, hati kami selalu bertautan. Setiap dari kami akan menemukan jalan pulang. Dan suatu masa, garis hidup kami akan bertemu kembali. Jika suatu hari itu datang, kami akan saling bercerita tentang berbagai episode hidup yang dilewati tanpa kebersamaan itu. Mungkin ada cerita yang menyenangkan, mengaharukan, atau apapun itu ceritanya.
Sekarang, aku hanya bisa berdoa semoga Allah selalu melindungi dan menyayangi mereka semua. Jalan apapun yang mereka tempuh, semoga mereka tak lupa jalan pulang.
Yogyakarta, 14 Oktober 2017
Comments (0)